Kuliah Praktisi Perilaku Konsumen Bahas Perilaku Konsumen Konvensional dan Digital
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian menyelenggarakan kuliah praktisi pada Mata Kuliah Perilaku Konsumen dengan topik “Perilaku Konsumen Konvensional dan Digital” pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB di Ruang Seminar Lantai 2 Fakultas Pertanian.
Kuliah praktisi menghadirkan Bayu Bharotodiasto, S.T., M.M., MBA sebagai narasumber, dengan Ali Hasyim Al Rosyid, S.P., M.Sc. sebagai moderator. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa yang mengambil Mata Kuliah Perilaku Konsumen sebagai bagian dari penguatan pemahaman mengenai dinamika perilaku konsumen, khususnya dalam konteks pemasaran produk agribisnis di era digital.
Dalam pemaparannya, narasumber menyampaikan bahwa keberhasilan suatu produk di pasar tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam memahami cara berpikir dan perilaku konsumen. Perilaku konsumen dijelaskan sebagai proses bagaimana individu, kelompok, maupun organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan mengevaluasi produk, jasa, pengalaman, atau ide untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Narasumber menekankan bahwa dalam bidang agribisnis, pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi sangat penting. Produk pertanian dan olahan agribisnis tidak cukup hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi, kebiasaan, serta proses pengambilan keputusan konsumen. Dengan memahami siapa konsumennya, mengapa konsumen membeli, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan, pelaku agribisnis dapat menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat.
Materi kuliah praktisi juga membahas berbagai faktor yang memengaruhi perilaku konsumen, yaitu faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor budaya mencakup nilai, kebiasaan, subbudaya, serta kelas sosial yang membentuk selera dan pola konsumsi masyarakat. Faktor sosial berkaitan dengan pengaruh keluarga, teman, komunitas, kelompok referensi, serta influencer. Faktor pribadi meliputi usia, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, dan kepribadian konsumen. Sementara itu, faktor psikologis mencakup motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, dan keyakinan konsumen terhadap suatu produk.
Selain itu, narasumber menjelaskan perbedaan karakteristik konsumen berdasarkan generasi. Baby Boomers cenderung loyal terhadap merek yang telah dikenal dan percaya pada pengalaman serta rekomendasi dari orang terdekat. Generasi X lebih rasional dan memperhatikan bukti nyata seperti kualitas, keamanan produk, label halal, BPOM, serta komposisi. Milenial lebih menghargai pengalaman, cerita produk, nilai sosial merek, serta ulasan online. Adapun Gen Z dikenal sebagai generasi identitas digital yang sangat dipengaruhi oleh media sosial, tampilan visual, tren viral, autentisitas, dan isu keberlanjutan.
Pada sesi berikutnya, narasumber membahas proses pengambilan keputusan pembelian yang meliputi pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, serta perilaku pasca pembelian. Narasumber menjelaskan bahwa pada era digital, proses pengambilan keputusan konsumen tidak lagi selalu berjalan secara linear. Konsumen dapat melihat konten di media sosial, mencari ulasan di Google, membandingkan harga di marketplace, bertanya melalui WhatsApp, kemudian melakukan pembelian melalui platform yang berbeda.
Dalam pembahasan perilaku konsumen digital, narasumber menyoroti pentingnya customer journey, zero moment of truth, social proof, dan user generated content. Konsumen masa kini sering kali mengambil keputusan pembelian setelah mencari informasi secara online, membaca ulasan, menonton video, membandingkan produk, serta melihat testimoni dari konsumen lain. Oleh karena itu, kepercayaan digital menjadi salah satu aspek penting dalam pemasaran modern.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa perilaku konsumen merupakan aspek penting dalam pemasaran, terutama bagi produk agribisnis dan UMKM. Pelaku usaha tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memahami kebutuhan, kebiasaan, emosi, sumber informasi, dan proses berpikir konsumen. Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pemasaran, mulai dari segmentasi pasar, pengemasan produk, penyusunan pesan promosi, pemilihan media pemasaran, hingga penguatan kepercayaan konsumen di era digital.
Kuliah praktisi ini menjadi salah satu bentuk penguatan pembelajaran berbasis praktik di Program Studi Agribisnis. Melalui kehadiran praktisi, mahasiswa memperoleh wawasan aplikatif mengenai bagaimana teori perilaku konsumen diterapkan dalam dunia pemasaran yang terus berkembang, khususnya pada sektor agribisnis.
[ALA]